Senin, 16 Januari 2012

Kunci Kebahagiaan Dalam Keluarga




Apabila pemilihan pasangan yang berdasarkan agama telah dilakukan dan langkah-langkah ke dalam pernikahan yang sesuai dengan ajaran islam telah pula dilakukan dengan baik, berarti telah dimulai pembangunan rumah tangga muslim dengan dasar yang teguh yang akan mewujudkan kemantapan, ketenangan dan kebahagiaan hidup yang sejati, yang selama ini banyak diharapkan oleh setiap keluarga.
Perlu diketahui bersama bahwa kebahagiaan itu datangnya bukan dari luar diri manusia, bukan pula karena semata-mata harta, tempat tinggal, pakaian dan segala macam perhiasan yang dimilikinya. Tetapi kebahagiaan akan didapati dari dalam diri manusia, yaitu dalam pasangan suami isteri yang masing-masing mempunyai perasaan taqwa kepada Allah. Karena Allahlah yang mengaruniakan kebahagiaan, yang memberikan mawaddah dan rahmah, cinta dan kasih sayang suami isteri.

Allah telah berfirman:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikannya di antara kamu rasa kasih sayang”. (Ar-Rum: 21)

Sebuah Sya’ir menyebutkan:

“Aku tidak melihat kebahagiaan dalam tumpuk harta, akan tetapi kebahagiaan itu ada dalam ketaqwaan seseorang”.

Kunci kebahagiaan dalam keluarga ternyata ada dalam diri manusia yaitu pasangan suami istri yang bertaqwa kepada Allah SWT, karena hanya Allah lah yang memberikan rasa kebahagiaan itu, yang pasti diberikan pada hambaNya yang bertaqwa.

PERNIKAHAN ITU IBADAH

Risalah dan tugas hidup ummat manusia ialah beribadah kepada Allah. Jadi ummat islam harus berusaha menjadikan seluruh urusan hidupnya beribadah kepada Allah. Kita jadikan seluruh kehidupan sebagai alat untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Mempergunakan seluruh fasilitas hidup yang ada untuk membantu kita beribadah kepada Allah. Oleh karena itu, makan, minum, olahraga, nikah, mendidik anak-anak dan yang mencakup segala kegiatan hidup lainnya merupakan ibadah kepada allah, untuk mendekatkan diri kepada Allah, selama yang dilakukan itu berlandaskan ketaqwaan dan dilaksanakan dengan semata-mata mencari keridhaan Allah dan menjauhi kemurkaan Allah.

Dengan demikian, para pemuda islam harus memandang pernikahan ini suatu ibadah kepada Allah dan hanya mengharap keridhaan dan pahala dari Allah SWT. Untuk itu kedua belah pihak, antara suami isteri, harus mengetahui seluruh persoalan yang berkaitan dengan kehidupan suami isteri, baik berupa ajaran-ajaran dan tatakrama islam, ataupun yang menyangkut hak-hak dan kewajiban suami isteri, dan harus bersunggu-sungguh melaksanakan tugas dan kewajiban masing-masing, berkeinginan penuh dengan seluruh bimbingan keluarga muslim, tolong menolong kearah kebaikan dan taqwa, serta ke arah taat kepada Allah, saling harga menghargai dan kasih sayang, hormat menghormati antara keduanya. Semua persoalan keluargatersebut telah diatur oleh syari’at islam.

Rosulullah Saw bersabda:

“Allah memberi rahmat kepada laki-laki yang bangun ditengah malam lalu dia shalat dan nmembangunka isterinya, jika isterinya enggan bangun shalat malam, dia meneteskan air kemukanya, Allah memberi rahmat kepada wanita yang bangun tengah malam lalu shalat dan membangunkan suaminya, jika suaminya enggan, kemudian ia meneteskan air kemukanya”.(HR. Abu Daud dengan sanad shahih)



PERNIKAHAN ITU SALING PERCAYA MEMPERCAYAI

Apabila suasana saling percaya mempercayai dan cinta mencintai antara suami istri telah menjelma, maka akan lahir kebahagiaan dan ketenteraman berumah tangga. Rumah tangganya akan menjadi rumah tangga muslim yang bahagia secara hakiki, apabila kehidupan rumah tangganya diatur dengan ajaran islam. Segala prasangka dan keraguan akan hilang dengan sendirinya. Tidak akan ada lagi pertengkaran , tuduh menuduh dan kepura-puraan. Kebahagiaan seperti itu tidak akan terwujud kecuali dibawah naungan taqwa kepada Allah dan mencintai-Nya dalam keadaan apa pun. Oleh karena itu jiwa sang suami akan selalu tenteram, dan ia merasa yakin bahwa isterinya hanyalah untuk dirinya dan akan selalu memelihara dirinya, walau pun ia lama terpisah dengan suaminya. Demikian juga sikap isterinya terhadap suami dibalut dengan kepercayaan penuh. Dalam suasana kebahagiaan seperti itu syaithan dari kamrat jin dan manusia tidak akan mendapat jalan untuk mengganggu dan menggoda keduanya.



PERNIKAHAN ADALAH SEBUAH SYARIKAT YANG DIPIMPIN SUAMI

Diantara faktor kebahagiaan dan ketenteraman kehidupan rumah tangga ialah kalau ia dibangun diatas kerja sama, syura, tolong menolong, cinta mencintai dan dibawah pimpinan suami sebagai pihak yang bertanggungjawab, yang memiliki hak kata pemutus. Jika masih terdapat kepincangan dalam neraca kehidupan keluarga ini, maka tidak akan wujud satu kemantapan dan kebahagiaan.

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf, akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan dari isterinya”.(Al-Baqarah:228)

“Kaum laki-laki itu adalah pimpinan bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”. (An-Nisa:34)

Oleh karena itu, pengaturan, manajemen dan anggaran rumah tangga akan sempurna bila berada dalam suasana penuh kerja sama, tanggungjawab dan syura, dalam pengertian sesuai dengan ketentuan islam. Maka tidak akan ada pemborosan anggaran dan kebakhilan, karena semua berada dalam udara qana’an (cukup dengan apa yang ada), rela dan yakin bahwa dunia ini bukan surga. Lihat rumah tangga Rasulullah Saw. Yang hidupnya pas-pasan, bahkan pernah dapurnya tidak berasap karena tidak ada bahan makanan yang dapat dimasak. Walaupun demikian rumah tangga Rasulullah tetap menjadi rumah tangga yang paling bahagia, yang tidak ada tolok bandingannya sampai kapanpun.

PERNIKAHAN ADALAH TANGGUNG JAWAB DAN AMANAH

Pasangan suami isteri mesti menyadari dan merasakan bahwa mereka memikul amanah adalah tanggung jawabnya. Karena tiap-tiap orang adalah pemimpin, dan tiap pemimpin bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya. Maka hendaklah anda bertaqwa kepada Allah dalam urusan yang ditugaskan dan diamanahkan kepada anda.

Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan ahli warismu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”. (At-Tahrim: 6)

Rasulullah saw. Bersabda:

“Orang yang paling baik dikalangan kamu adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan akulah orang yang paling baik diantara kamu terhadap keluargaku”.

Kita senantiasa memerlukan keseimbangan yang sehat dalam kepemimpinan ini. Sebagai contoh, kita bisa memberikan perhatian yang berlebihan apabila salah seorang anggota keluarga jatuh sakit, tetapi perhatian sewajarnya jarang diberikan terhadap salah seorang anggota keluarga yang melalaikan hak Allah atau menyalahi ajaran islam, padahal ini justru yang paling utama harus diperhatikan dan mendapat pengobatan.di kutip dari buku....

PENDIDIKAN BUDI PEKERTI BAGI ANAK-ANAK

Anak adalah anugerah dan amanah dari yang Maha Kuasa, karenanya memberi pendidikan kapada anak adalah hal yang mutlak.

Pendidikan anak adalah tanggung jawab orang tua, terutama sekali ketika masa mereka belia.

Saat ini kerap kita jumpai perilaku anak-anak yang cenderung berani dan jauh dari adab kesopan-santunan. Songong, istilah kita, bahkan di areal TPA, masjid, sekolah, entah lagi di jalanan.

Berikut ada 10 poin utama pendidikan akhlak dan sopan santun bagi buah hati anda.

Pertama, biasakanlah anak untuk menggunakan tangan kanan dalam mengambil, memberi, makan, minum dan menulis.

Mengajarkannya untuk selalu memulai setiap pekerjaan dengan basmalah terutama untuk makan dan minum. Dan itu harus dilakukan dengan duduk serta diakhiri dengan membaca hamdalah.

Kedua, biasakan untuk selalu menjaga kebersihan, memotong kukunya, mencuci kedua tangannya sebelum dan sesudah makan, dan mengajarinya untuk bersuci ketika buang air kecil maupun air besar, sehingga tidak membuat najis pakaiannya dan shalatnya menjadi sah.

Ketiga, berlemah lembut dalam memberi nasihat kepada mereka dengan secara diam-diam. Tidak membuka kesalahan mereka didepan umum. Jika mereka tetap membandel maka kita diamkan selama tiga hari dan tidak lebih dari itu.

Keempat, menyuruh anak-anak untuk diam ketika adzan berkumandang dan menjawab bacaan muadzin kemudian bershalawat atas Nabi dan berdo’a.

Kelima, sediakan tempat tidur pada setiap anak jika memungkinkan, jika tidak maka setiap anak diberikan selimut sendiri-sendiri. Akan lebih utama jika anak perempuan mempunyai kamar sendiri dan anak laki-laki mempunyai kamar sendiri dan anak laki-laki mempunyai kamar sendiri, guna menjaga akhlak dan kesehatan mereka.

Keenam, membiasakan mereka untuk tidak membuang sampah dan kotoran ditengah jalan dan menghilangkan hal yang menyebabkan mereka sakit.

Ketujuh, mewaspadai persahabatan mereka dengan kawan-kawan yang nakal, mengawasi mereka, dan melarang mereka duduk-duduk dipinggir jalan.

Kedelapan, biasakan memberi salam kepada teman-temannya dirumah, dijalan

maupun di sekolah.

Kesembilan, berpesan kepada anak untuk berbuat baik kepada tetangga tidak menyakiti mereka.

Kesepuluh, membiasakan anak bersikap hormat dan memuliakan tamu serta menghidangkan suguhan baginya.dikutip dari majalah ” Perkawinan & Keluarga”.



Aah Solihah, M.S.I
Penyuluh Agama Islam Kecamatan Cigalontang

Tidak ada komentar :

Arsip